Wednesday, April 25, 2012

Faktor yang Mempengaruhi Mortalitas Larva Spodoptera litura

Aeni Syaqra' ^..^


Pendahuluan

Spodoptera litura atau yang dikenal dengan ulat grayak merupakan salah satu hama daun yang penting karena mempunyai kisaran inang yang luas meliputi kedelai, kacang tanah, kubis, ubi jalar,kentang, dan lain-lain. S. litura menyerang  tanaman budidaya pada fase vegetatif yaitu memakan daun tanaman yang muda sehingga tinggal tulang daun saja dan pada fase generatif dengan memangkas polong–polong muda (Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan 1985). Menurut Adisarwanto & Widianto (1999) serangan S. litura menyebabkan kerusakan sekitar 12,5% dan lebih dari 20% pada tanaman umur lebih dari 20 hst.

Hama ini sering mengakibatkan penurunan produktivitas bahkan kegagalan panen karena menyebabkan daun dan buah sayuran menjadi sobek, terpotong-potong dan berlubang. Bila tidak segera diatasi maka daun atau buah tanaman di areal pertanian akan habis (Samsudin, 2008).

Klasifikasi Spodoptera litura:
Kingdom: Animalia
Phylum: Arthropoda
Class: Hexapoda (including Insecta)
Order: Lepidoptera
Family: Noctuidae
Genus: Spodoptera
Species: litura

Spodoptera litura merupakan  salah satu serangga hama yang mempunyai banyak tanaman inang. Pengetahuan mengenai jenis-jenis tanaman inang dapat digunakan sebagai sarana pengendalian. Untuk maksud tersebut perlu diketahui inang yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Serangga ini telah diketahui merupakan  hama  yang cukup penting pada berbagai tanaman, tetapi tidak begitu menyukai  tanaman dari golongan Graminae  (Sukarna, 1984). Meskipun demikinan, dilaporkan juga menyerang pertanamn padi gogo  karena larvanya dapat berkepompong di bawah  permukaan tanah. Pertanaman padi sawah dapat terserang berat bila ada migrasi larva dari rumput-rumput di sekitar pertanaman (Pathak, 1997).

Kegiatan

Ø  Rabu,10 April 2012; Lima larva Spodoptera litura dimasukkan ke dalam wadah plastik yang telah dilubangi bagian atasnya dan terdapat pakan (daun talas) di dalamnya.
Ø  Dalam satu hari, amati suhu ruangan dua kali dan dalam dua hari sekali, pakan (daun talas) diganti yang sebelumnya dibersihkan terlebih dahulu.
Ø  Jumat,12 April 2012; ganti pakan
Ø  Senin,15 April 2012; ganti pakan

Hasil Pengamatan
*      Suhu Ruangan

Kelompok
Jumlah Larva
Keterangan Hari         Mati
Instar
Suhu

Hidup
Mati
Hidup
Mati

1
1
4
Kamis -> 4
III
I
25,5-27

2
1
4
Jumat -> 4
III
I
25,5-27

3
3
2
Kamis -> 2
II
I
25,5-27

4
4
1
Senin -> 1
1 -> III dan
3 -> II
I
25,5-27




*      Suhu Pendingin

Kelompok
Jumlah Larva
Keterangan Hari Mati
Instar
Suhu

Hidup
Mati
Hidup
Mati

5
-
5
Kamis-> 3,
Jumat -> 2
0
I
0-3

6
-
5
Kamis-> 4,
Jumat-> 1
0
I
0-3

7
-
5
Sabtu -> 5
0
I
0-3

8
-
5
Jumat -> 5
0
I
0-3





Pembahasan
Perkembangan Spodoptera litura
Dalam perkembangannya seranggga Spodoptera litura melalui empat stadia, yaiutu telut, larva, pupa, dan imago.
Telur -> telur berwarna putih seperti mutiara, bulat dengan permukaan beralur halus.
Larva => Stadium larva secara keseluruhan melewati lima instar. Pada tiap-tiap instar yang berbeda, warna tubuhnya akan berbeda (Pathak, 1997). Larva yang baru menetas berupa ulat kecil dengan panjang tubuh kira-kira 1 mm, silindris, dan berwarna kehijau-hijauan dengan kepala berwarna hitam kecoklatan. Larva-larva tersebut makan secara berkelompok selama 3 sampai 5 dan memakan bagian epidermis daun. (Pathak, 1997 dan Miller, 1993). 

Pengaruh Suhu
Kenaikan suhu lingkungan meningkatkan aktivitas makan hama pascapanen pada batas tertentu. Hal ini menjelaskan pengaruh suhu terhadap pemendekan masa perkembangan serangga pascapanen. Fluktuasi suhu yang terjadi setiap harinya juga mempengaruhi perkembangan hama pascapanen. Serangga yang hidup pada suhu tinggi masa perkembangannya lebih singkat daripada suhu fluktuatif walaupun dengan rata-rata suhu yang sama tinggi. Sementara itu pada suhu rendah, masa perkembangannya lebih lama dibandingkan suhu fluktuatif dengan rata-rata sama rendah. Kadar air bahan simpan mempengaruhi lama stadium larva. Kadar air bahan simpan yang rendah memperlama stadium larva, tetapi stadium telur dan pupa tidak terpengaruh.
Serangga mempunyai kisaran suhu optimum untuk perkembangannya. Apabila suhu optimum tersebut tidak terpenuhi maka akan terjadi penurunan populasi hama pascapanen contohnya pada Tribolium (Coleoptera berumur panjang), suhu optimum pertumbuhan adalah 25-37,5°C. Ketahanan hidup hama tersebut akan turun apabila hidup pada lingkungan diluar kisaran suhu tersebut dan kematian terbanyak terjadi pada larva instar awal. Hal serupa terjadi juga pada hama pascapanen Rhyzopertha, Oryzaephilus dan Cryptolestes. Peranan temperatur juga mempengaruhi perkembangan hidup hama pascapanen, apalagi pada perlakuan fumigasi.

Pengaruh Makanan
Makanan yang cukup dan sesuai dengan yang dibutuhkan akan mendukung perkembangan populasi hama, sebaliknya makanan yang cukup, tetapi tidak sesuai dengan yang dibutuhkan akan menyebabkan hama tidak menyukai bahan simpan/makanan tersebut atau akan dapat menekan populasi hama tersebut. Ketidakcocokan makanan dapat timbul karena:
  1. Kurangnya kandungan unsur yang diperlukannya;
  2. Rendahnya kadar air dalam kandungan makanan;
  3. Permukaan material (bahan pangan) terlalu keras;
  4. Bentuk material (bahan pangannya).
Kualitas inang akan sesuai dengan kandungan nutrisi yang ada pada tubuh inang. Semakin besar larva inang maka nutrisi yang dikandungnya juga banyak sehingga mencukupi untuk perkembangan parasitoid sekaligus akan mempengaruhi laju perkembangan parasitoid itu sendiri. Godfray (1994) mengemukakan bahwa semakin besar ukuran larva inang maka kandungan nutrisinya semakin baik untuk perkembangan parasitoid.


 Kesimpulan

Ø  Larva yang ditempatkan pada suhu 0-30C di lemar es tidak ada yang hidup karena larva akan mengalami perkembangan pada suhu optimum 25-37,5°C.
Ø  Ketahanan hidup akan turun apabila hidup pada lingkungan di luar kisaran suhu tersebut (25-37,5°C) dan kematian terbanyak terjadi pada larva instar awal.
Ø  Larva yang disimpan pada suhu ruangan pada setiap kelompok ada yang hidup karena suhu ruangan telah mencapai suhu optimum dimana larva akan berkembang.
Ø  Larva kelompok 4 lebih banyak yang bertahan hidup karena pakan diganti dengan daun talas yang dicuci terlebih dahulu. Hal ini membuat pakan larva mengandung kadar air yang cukup. 








Daftar Pustaka
Setyolaksono, Pamuji. 2011. Ekologi Hama. Diunduh pada 24 April 2012 di alamat: ditjenbun@deptan.go.id
Rahmawati, Yulia dan Yunisman. 2011. Pengaruh Instar Larva Inang Spodoptera litura Fabricius (Lepidoptera: Noctuidae) terhadap Keberhasilan Hidup Parasitoid Eriborus argenteopilosus Cameron (Hymenoptera: Ichneumonidae). Diunduh pada 24 April 2012 di alamat: http://pei-pusat.org/jurnal/

Susilawati. 2011. Kiat-kiat Mengatisipasi Perubahan Iklim Untuk Menekan Serangan Hama Gudang Dalam Pasca Panen Padi. Diunduh pada 24 April 2012 di alamat: epatani.deptan.go.id

-          Ulat Grayak. Diunduh pada 25 April 2012 di alamat: digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate




 














No comments:

Post a Comment