Thursday, June 14, 2012

Pengaruh Teknik Semprot dan Film Kering Terhadap Mortalitas Ulat Hongkong

PEMBAHASAN

Ulat hongkong mempunya siklus hidupnya yang terdiri atas 4 tahap yaitu telur,larva, pupa, dan imago. Siklus biasanya berlangsung selama 3 – 4 bulan. Telurnya berbentuk kacang dalam berkelompok atau sendiri. Telur biasanya ditutupi oleh lapisan bahan cairyang lengket. Telur bertelur setelah 7 hari. Larva menetas berukuran 3mm, berwarna putih lalu kuning kecokelatan. Larva berganti kulit 15 kali sebelum menjadi pupa. Pupa tidak bersifat aktif dan berlangsung selama 7 hari. Imago pada umumnya bertahan hidup selama2 – 3 bulan. Betina dapat memproduksi 200 – 300 butir telur.

Penggunaan daun mindi sangat memepengaruhi tingkat mortalitas ulat.  Pada umumnya bahan aktif yang terkandung pada tumbuhan mindi berfungsi sebagai antifeedan terhadap ulat dan menghambat perkembangan ulat. Kematian larva oleh ekstrak daun dan biji mindi ditandai tidak sempurnanya proses ekdisis yaitu terdapat larva yang gagal melepas kutikula lamanya, terutama pada bagian kapsul kepalanya. Larva ini kemudian mati karena gerakannya terhambat.

Maryani (1995) mengemukakan bahwa biji sirsak mengandung bioaktif asetogenin yang bersifat insektisidal dan penghambat makan (anti-feedant). Buah mentah, biji, daun, dan akar sirsak mengandung senyawa kimia annonain yang dapat berperan sebagai insektisida, larvasida, penolak serangga (repellent), dan anti-feedant dengan cara kerja sebagai racun kontak dan racun perut (Kardinan 2002).

PENGAMATAN
Data Mortalitas Ulat Hongkong
Perlakuan
24 Jam
48 Jam
72 Jam
1
2
1
2
1
2
Mindi
semprot
5
5
0
0
0
0
film kering
0
0
0
0
0
0
Sirsak
semprot
3
3
0
0
1
2
film kering
0
1
0
0
0
2
Beauveria
semprot
5
5
0
0
0
0
film kering
0
0
0
0
0
1
Vertikulur
semprot
5
4
0
1
0
0
film kering
0
1
0
0
0
0

Perlakuan yang dilakukan oleh kelompok kami adalah teknik semprot menggunakan vertikulur. Langkah pertama, masukkan 10 ulat hongkong pada dua tempat yang berbeda, setelah itu, semprotkan larutan verikulur pada dua tempat tersebut sebanyak tiga kali semprotan.

Kondisi fisik yang terjadi:
Ø  Ulat seketika diam setelah beberapa detik menggoyangkan tubuhnya;
Ø  Setelah 24 jam, hanya terdapat satu ulat yang masih bertahan hidup, itu pun hanya dengan menggerakkan bagian depan tubuhnya;
Ø  Kondisi saat 48 jam, semua ulat mati; 2 ulat menghitam;
Ø  Kondisi 72 jam: 3 ulat mulai menghitam, di tempat satu lagi, 4 ulat telah hitam

Berdasarkan data pengamatan yang diperoleh, perlakuan menggunakan teknik semprot lebih efektif membunuh ulat dalam waktu yang relative lebih cepat. Salah satu alasannya adalah larutan yang digunkan sebagai pestisida nabati langsung mengenai tubuh objek, sedangkan jika menggunkan teknik film kering, pengaruh larutan tidak langsung ditembakkan padatubuh ulat.


PENUTUP
Kesimpulan
Ø  Pengaruh teknik semprot terhadap mortalitas ulat hongkong lebih cepat disbanding dengan menggunakan teknik film kering


DAFTAR PUSTAKA

Maria,Asri.Metode Eksplorasi Jamur Entomopatogen dengan Menggunakan Serangga Umpan.Diakses pada tanggal 5 Juni 2012 di: http://ditjenbun.deptan.go.id/bbp2tpsur/images/stories/proteksi/maria.pdf

Anonim. Tanaman Mindi (Meylia azedarach Linn) Diakses pada tanggal 5 Juni 2012 di: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23822/4/Chapter%20II.pdf.

Herlinda, Siti. 2005. Patogenisitas Isolat-Isolat Beauveria bassiana (BALS.) Vuill.
Terhadap Larva Plutella xylostella (L.) (Lepidoptera: Plutellidae) di Rumah Kaca. Diakses pada tanggal 5 Juni 2012 di: http://eprints.unsri.ac.id/230/1/19.PATOGENISITAS%20%20ISOLAT-ISOLAT%20Beauveria%20bassiana.pdf

No comments:

Post a Comment